CLICK HERE FOR FREE BLOGGER TEMPLATES, LINK BUTTONS AND MORE! »

welcome

Minggu, 16 September 2012

Definisi Khalifah-Manusia sebagai khalifah

 Kata pengantar

Puji syukur kehadirat Allah yang telah mengizinkan kami untuk menyelesaikan ringkasan materi mengenai “khalifah” ini.

Pada rangkuman ini kami membahas mulai dari definisi khalifah sampai dengan ayat – ayat yang memperjelas apa – apa saja yang berkenaan dengan khalifah, makalah ini juga dilengkapi dengan sesi pertanyaan yang kami berikan berikut dengan jawabannya.

Kami menyadari, banyaknya kekurangan pada ringkasan materi ini, oleh sebab itu, kami mohon maaf dan juga kritik dan saran agar dapat dilakukannya perbaikan dikemudian hari.



Daftar Isi

Kata Pengantar..........................................................................................................................1
Daftar Isi....................................................................................................................................2
Defini Khalifah...........................................................................................................................3
Surat Al – Baqarah (2) ayat 30..................................................................................................4
Surat Al – Mu’minun ayat 12 – 14............................................................................................9
Tugas Manusia........................................................................................................................12
Jenis Ibadah............................................................................................................................13
Interaktif.................................................................................................................................14
Kesimpulan.............................................................................................................................17




I.                 Definisi khalifah

Khalifah adalah orang yang mewakili umat dalam urusan pemerintahan dan kekuasaan serta dalam menerapkan hukum-hukum syara'. Islam telah menjadikan pemerintahan dan kekuasaan menjadi milik umat, di mana dalam hal ini umat mewakilkan kepada seseorang untuk melaksanakan urusan tersebut sebagai wakilnya. Bahkan Allah juga telah mewajibkan kepada umat untuk menerapkan hukum syara' secara keseluruhan.

Dengan demikian, khalifah hanyalah orang yang diangkat oleh kaum muslimin. Karena itu, faktanya adalah bahwa khalifah merupakan wakil umat dalam masalah pemerintahan dan kekuasaan serta dalam menerapkan hukum syara'. Oleh karena itu, tidak ada seorang khalifah pun kecuali setelah ia dibai'at oleh umat. Maka, bai'at umat kepada khalifah dengan kekhilafahannya itu telah menjadikan khalifah sebagai wakilnya, dan pengangkatan jabatan khilafah untuk seorang khalifah dengan bai'at itu berarti telah memberikan kekuasaan kepada khalifah, sehingga umat wajib untuk mentaatinya.

Orang yang memimpin urusan kaum muslimin tidak bisa disebut khalifah, kecuali setelah ia dibai'at oleh umat dengan bai'at in'iqad (bai'at pengangkatan) secara syar'i, dengan ridla dan bebas memilih, di mana khalifah memiliki syarat-syarat in'iqadul khilafah (pengangkatan untuk menduduki kekhilafahan). Setelah pengangkatan khilafah dinyatakan sah bagi seorang khalifah, maka ia harus segera menerapkan hukum-hukum syara'.

Sedangkan sebutan yang biasa dipergunakan adalah sebutan khalifah, imam atau amirul mukminin. Sebutan-sebutan ini banyak dinyatakan dalam hadits-hadits shahih. Sebagaimana sebutan tersebut  telah diberikan kepada para khulafaur rasyidin. Abu Said Al khudri meriwayatkan dari Rasulullah Saw. bahwa beliau bersabda:

"Jika dibai'at dua orang khalifah, maka bunuhlah yang terakhir dari keduanya." (Hadits Riwayat Imam Muslim, Hadits no. 1853)

Dari Abdullah Bin Amru Bin Ash yang mendengarkan Rasullah Saw. bersabda:

"Siapa saja yang telah membai'at seorang Imam lalu memberikan uluran tangan dan buah hatinya, maka hendaklah ia mentaatinya." (Hadits Riwayat Imam Muslim, Hadits no. 1844)

Dari Auf Bin Malik Al Asyja'i berkata: "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda:

"Sebaik-baik pemimpin kalian ialah mereka yang kalian cintai dan mereka pun mencintai kalian; mereka mendo'akan kalian, dan kalian pun mendo'akan kalian."

Terikat dengan tiga sebutan di atas memang hukumnya tidak wajib. Bahkan diperbolehkan untuk menyebut orang yang memimpin urusan-urusan kaum muslimin tersebut dengan sebutan-sebutan lain yang maknanya sama. Seperti hakimul mukminin (penguasa orang-orang mukmin), raisul muslimin(pimpinan kaum muslim), sulthanul muslimin (penguasa kaum muslimin) atau sebutan lain yang dilihat dari segi makna tidak bertentangan dengan tiga sebutan di atas. Adapun sebutan-sebutan yang memiliki konotasi yang bertentangan dengan hukum-hukum Islam yang berkaitan dengan masalah pemerintahan, seperti raja, presiden dan kaisar, maka semuanya tidak boleh dipergunakan untuk menyebut orang yang memimpin kaum muslimin. Karena makna yang ditunjukkan oleh sebutan tersebut bertentangan dengan hukum-hukum Islam.




II.              SURAT AL-BAQARAH (2) Ayat 30

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُواْ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاء وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لاَ تَعْلَمُونَ
[Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sungguh Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah". Mereka berkata: "Mengapa Engkau akan menjadikan di bumi (khalifah) yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menguduskan-Mu?" Dia berfirman: "Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui".]
1.         Di ayat 28, Allah menjelaskan asal-usul manusia beserta alam-alam yang menjadi destinasi-destinasi eksistensialnya, yang berakhir pada: ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ  [tsumma ilayhi turja’uwnkemudian (pada akhirnya) kepada-Nya-lah kalian dikembalikan]. Sementara di ayat 29, Allah menjelaskan perjalan ruhani yang sejatinya dilewati oleh tiap individu manusia, yang bermula dari bumi, dari dunia material, dari tubuh biologis, untuk selanjutnya beranjak menuju ke ‘langit’dengan melintasi tujuh lapis ‘langit’. Seluruh kandungan al-Qur’an (individual ataupun sosial, personal ataupun ideologis, moral ataupun politis) bermuara ke kedua jenis perjalanan ini: perjalanan eksistensial (ayat 28) dan perjalanan spiritual (ayat 29). Artinya, seluruh gagasan sosial, ideologi, dan politik manusia harus sejalan (dan sekaligus menjadi bagian) dari kedua jenis perjalanan tersebut. Dan agar tidak menyimpang, agar tetap berada pada shirātal-mustaqĭm (Jalan Lurus), manusia mutlak membutuhkan PETUNJUK: yang maktub (terkonseptualisasi) dan yang maf’ul (teraktualisasi)—lihat kembali S. al-Fatihah ayat 6 dan 7. Yangmaktub (terkonseptualisasi) ialah Kitab Suci, sedangkan yang maf’ul (teraktualisasi) ialah sosok tokoh yang perjalanan spiritualnya telah mencapai Sidratul Muntaha, dan capaiannya itu mendapatkan pengakuan dari Sang Pemangku ‘arasy, yaitu Allah swt. Sehingga penentuan dan penunjukan sosok tokoh ini benar-benar menjadi domain mutlak dari Allah rabbul ‘alamĭn. Apakah ini suatu bentuk diktatorisme dari Allah? Tidak. Ini adalah Rahman-Nya kepada manusia karena tidak ingin ada hamba-Nya yang tertutup hatinya (ayat 6 dan 7) serayamembiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan (ayat 15), terjebak ke dalam lembah kerugian (ayat 16) dan melihat mereka hidup tersiksa dalam kegelapan (17-20), tanpa cahaya. Sehingga siapa saja nantinya yang tertutup hatinya, kemudian hidup dalam kegelapan dan kesesatan, maka itu semata karena pilihan sadarnya sendiri.
2.         Dalam rangka penentuan dan penunjukan sosok inilah Allah menurunkan ayat 30 ini. Allah mengemukakan dan sekaligus memaklumatkan ‘gagasan-besar’ ini kepada para malaikat: "Sungguh Aku akan menjadikan di bumi seorang khalifah". Isi maklumat ini sangat jelas, tegas, dan gamblang: seorang khalĭfah, bukan dua atau banyak orang. Jabatannya juga jelas: khalĭfah, bukan Nabi bukan Rasul. Tempat dan wilayah kekuasaannya juga jelas: di bumi, dan bukan di planet, di galaksi atau di semesta lain. Hal yang sama juga terjadi pada pelaku yang punya prerogatif mengangkat khalĭfah tersebut; bentuk katanya jelas dan terang benderang, yaitu إِنِّي (inniy, sungguh Aku) dan bukan إِنَّا (innā, sungguh Kami). Kata إِنِّي (inniy, sungguh Aku) adalah gabungan dari kata إِنِّ (inna, sungguh) dan أَنَا (ana, aku), sehingga huruf ي (ya’) yang ada di sana adalah kata ganti (dhamir) dari kata أَنَا (ana, aku), yang ahli bahasa menyebutnya mutakallim mufrad (pembicara tunggal). Semua itu menunjukkan dengan sangat tegas—tanpa membuka peluang lain—bahwa penentuan dan penunjukan kahlifah adalah murni otoritas dan prerogative tunggal Allah. Alasan aqli-nya; bagaimana mungkin manusia yg punya banyak kekurangan, cenderung memperturutkan hawa nafsunya, punya interes pribadi dan subyektivitas yang tinggi itu memilih manusia paling sempurna di antara mereka? Bagaimana mungkin makhluk yang Allah sendiri menyebutnya sungguh manusia itu amat zalim dan amat bodoh (33:72), memilih khalĭfahAllah di antara mereka, sekalipun seluruh kepala berkumpul dan bermusyawarah untuk ituSingkatnya, bagaimana mungkin orang yang tak mengenal Tuhannya dengan sempurna memilih salah seorang di antara mereka yang pantas menjadi kekasih Tuhan. Itu sebabnya, manusia sangat sering kecewa kepada hasil pilihannya sendiri, karena dulu mereka menyangkanya hebat dan luar biasa, tapi ternyata—setelah berlalunya waktu—pilihannya itu pecundang dan hipokrit; alih-alih memikirkan kepentingannya rakyatnya, malah cuma memikirkan kepentingan kelompok dan kontinyuitas dinastinya.
3.         Ada yang mengatakan bahwa kata khalĭfah di ayat ini adalah berkenaan dengan manusia secara keseluruhan. Sehingga, bagi mereka, maklumat Allah kepada para malaikat tersebut adalah pemberitahuan tentang akan diciptakannya makhluk baru yang bernama “manusia” yang akan melaksanakan tugas sebagai khalĭfah Allah di bumi. Coba bandingkan dengan dua ayat berikut ini:
وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلاَئِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
Artinya: “Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sungguh Aku akan menciptakan basyaran (manusia biologis) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk’.” (15:28)
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَراً مِن طِينٍ
Artinya: “(Ingatlah) tatkala Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sungguh Aku akan menciptakan basyaran (manusia biologis) dari tanah’.” (38:71)
Perbedaan antara 2:30 dan kedua ayat ini (15:28 dan 38:71): Pertama, di 2:30 menggunakan kata جَاعِلٌ (jā’ilun,yang menjadikan), sementara di 15:28 dan 38:71 menggunakan kata خَالِقٌ (khāliqun, yang menciptakan). Keduanya masing-masing merupakan bentuk fā’il (pelaku) dari kata جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) dan kata خَلَقَ (khalaqa, menciptakan). Pengertian خَلَقَ (khalaqa, menciptakan) dan جَعَلَ (ja’ala, menjadikan) sudah pernah kita bahas di ayat 22 poin 1. Kedua, di 2:30 objeknya disebut dengan tegas: khalĭfah; sementara di 15:28 dan 38:71 objeknya juga disebut dengan tegas: basyarKetiga, identitas khalĭfah disebut di 2:29 sebagai sosok tokoh yang telah berhasil mencapai Sidratul Muntaha setelah sebelumnya melintasi tujuh lapis ‘langit’; sedangkan asal-usul basyar dengan gamblang disebut berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk (15:28) dan dari tanah (38:71). Keempat, ayat 2:30 menyebut keterangan tempat, di bumi, sebagai wilayah efektivitas kekuasaan Sang Khalĭfah, sedangkan di 15:28 dan 38:71 tidak menyebutkannya sama sekali. Kelima, Surat al-Baqarah (2) turun di Madinah, sementara Surat al-Hijr (15) dan Surat Shād (38) keduanya turun di Mekah.
Dari kelima jenis perbedaan itu, bisa disimpulkan bahwa keduanya juga mempunyai maksud yang bebeda. Di 15:28 dan 38:71, Allah mendeklarasikan penciptaan manusia, makhluk baru yang berkedudukan lebih tinggi dari malaikat, karena kepadanya ditiupkan Ruh-Nya: “Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh-Ku; maka hendaklah kalian tunduk kepadanya seraya bersujud.” (15:29 dan 38:72). Sementara di 2:30 Allah memaklumatkan pucuk pimpinan dari manusia tersebut agar mereka tidak tersesat. Karena manakala nanti tidak mengakui dan mengikuti khalĭfah pilihan Allah ini, yang merupakan pemimpin ilahi baginya, niscaya mereka (manusia basyar) akan dipimpin oleh pemimpin duniawi yang hanya akan mengejar kepentingan sesaat.
Dalam konteks inilah, agar tidak salah faham, Allah menyuruh Nabi memberitahukan kepada seluruh manusia: “Katakanlah (Muhammad): ‘Sesungguhnya aku ini seorang basyar (manusia biologis) seperti kalian, (hanya saja) diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kalian itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’.” (18:110) Dari ayat ini bisa difahami bahwa khalĭfah adalah bentuk takhsĭs (pengkhususan) dari manusia basyar, setelah Allah memilihnya secara ekslusif, dengan tugas yang juga ekslusif, yaitu memandu manusia mengerjakan amal saleh dan enghindarkan mereka dari perbuatan syirik (mempersekutukan Rab-nya).
4.         Penggunaan kata جَاعِلٌ (jā’ilun, yang menjadikan), yang merupakan bentuk fā’il (pelaku) dari kata kerja جَعَلَ (ja’alamenjadikan), menunjukkan bahwa pelaku telah mengeluarkan diri dari satu ikatan waktu tertentu, sehingga perbuatan tersebut bersifat mudāwamah(berulang-ulang) dan istimrār (berkelanjutan, continuous). Artinya, setiap saat Allah senantiasa menunjuk dan mengangkat seorang khalĭfahdi bumi ini sehingga bumi tidak pernah kosong dari pemimpin ilahi. Kehadirannya sekaligus menjadi hujjah (argumen) bagi Allah untuk menolak keberatan manusia. Sehingga manusia tidak lagi punya dalih apabila nanti (di akhirat) mereka menyadari ketersesatannya dulu di dunia yang menyebabkan mereka hidup dalam penderitaan dan azab yang pedih (neraka). “… Setiap kali dilemparkan ke dalam (neraka) sekumpulan orang. Penjaganya (selalu) bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepada kalian (dulu di dunia) seorang pemberi peringatan?’ Mereka menjawab: ‘Memang ada. Sungguh benar telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, namun kami mendustakan(nya) dan kami katakan (kepadanya): ‘Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar’.” (67:8-9)
Para khalĭfah yang ada di zaman mereka masing-masing inilah yang dimaksud ayat ini: “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam (pemimpin-pemimpin ilahi) yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan salat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah.” (21:73)
5.         Ekslusifitas khalĭfah yang dimaksud lebih dipertegas lagi oleh jawaban para malaikat: Mengapa Engkau akan menjadikan di bumi (khalifah) yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menguduskan-Mu? Jawaban ini bukan hasil pengalaman malaikat terhadap prilaku ‘manusia sebelumnya’. Malaikat tidak mengenal istilah “pengalaman” karena mereka bukan makhluk ruang-waktu, sementara kata “pengalaman” menunjukkan peristiwa masa lalu yang menyeruak masuk ke dalam kesadaran kekinian dan kedisinian kita. Keberatan para malaikat ini adalah negasi terhadap tugas khalĭfahBahwa yang namanya khalĭfah itu tidak mungkin membuat kerusakan di bumi dan menumpahkan darah. Bahwa yang namanya khalĭfah itu mustahil mengisolasi, menyiksa, memenjarakan, membunuh, apalagi membantai dengan sadis orang-orang yang tak bersalah, orang yang hanya beda pandangan politik dengannya. Bahwa yang namanya khalĭfah itu pantang baginya menyebarkan fitnah, berita-berita bohong, dan benih-benih permusuhan di tengah-tengah masyarakat demi mengambil keuntungan politik dan ekonomi dari perpecahan itu. Yang namanyakhalĭfah itu haram baginya memobilisasi pasukan perang untuk menyerang pihak lain atau menduduki Negara lain, karena hal itu selain menimbulkan korban jiwa juga kerusakan infrastruktur kehidupan yang tak terperikan. Karena khalĭfah adalah wakil Tuhan di bumi untuk menegakkan keadilan dan menjauhkan manusia dari saling menzalimi satu sama lain. Itu sebabnya, kalimat malaikat berikutnya adalah sebuah afirmasi: padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan menguduskan-Mu. Artinya, kalau malaikat saja yang bersujud kepada khalĭfah tersebut kerjanya hanya bertasbih, memuji dan meguduskan Rab-nya, apatah lagi seorang khalĭfah. Tugas khalĭfah adalah mengorientasi agar seluruh lini kehidupan manusia (individual ataupun sosial, personal ataupun ideologis, moral ataupun politis) menjaditasbih (penyucian), tahmid (pemujian), dan taqdis (pengudusan) kepada Rab-nya.
6.         Atas keberatan malaikat, Allah menjawab: "Sungguh Aku mengetahui apa yang kalian tidak ketahui".  Jawaban Allah mengandung tiga hal: pertama, jawaban apapun (negasi atau afirmasi) harus selalu berdasarkan ilmu. Menolak sesuatu harus dengan ilmu. Menerima sesuatu pun harus dengan ilmu. Jadi tidak ada tempat bagi dogma. Sehingga jawaban yang benar selalu berada pada pihak yang أَعْلَمُ (a’lam, mempunyai ilmu) seperti jawaban Tuhan tersebut. Kedua, segala seuatu pasti ada ilmunya. Kalau manusia atau malaikat tidak mengetahuinya, maka Allah mengetahuinya. Perhatikan, saat Allah menyebut diri-Nya أَعْلَمُ (a’lam, mempunyai ilmu), langsung menyusulnya dengan kalimat مَا لاَ تَعْلَمُونَ (mā lā ta’lamuwn, apa-apa yang kalian tidak punya ilmu tentangnya) . Ketiga, melalui jawaban ini, Allah memperlihatkan bahwa hirarki eksistensial yang paling rasional bukan yang berdasarkan ekonomi, industri, kekuasaan politik, aristokrasi, pemilih terbanyak, umur, senioritas, dan sebagainya, tetapi yang berdasarkan ilmu. Berdasarka ketiga hal inilah sehingga seorang khalĭfahmempunyai landasan paling rasional untuk membimbing dan memimpin manusia pada zamannya masing-masing.


Intisari dari surat al – baqarah (2): 30
Ø  Pemberitahuan Allah kepada malaikat mengenai rencana-Nya hendak menciptakan manusia (Adam) dan menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi
Ø  Kekhawatiran malaikat jika bumi di pimpin oleh manusia yang memiliki sifat suka berbuat kerusakan
Ø  Perbedaan antara manusia dan malaikat
a.      Manusia adalah makhluk Allah yang suka membuat kerusakan dan menumpahkan darah
b.      Malaikat adalah makhluk yang senantiasa bertasbih dengan memuji allah dan mensucikannnya
Ø  Allah menegaskan bahwa Dia Maha Mengetahui apa-apa yang tidak diketahui oleh makhluk-Nya

                                           






III.          Surat Al – Mu’minun: 12 – 14

“12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal)dari tanah. 13. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalamtempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah,lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.
” (QS Al Mukminun : 12-14)


a.      Kandungan ayat 

Dalam surat Al Mukminun ayat 12-14 Allah SWT menerangskan tentang proses penciptaan manusia. Sebelum para ahli dalam bidang kedokteran modern mengetahui proses asalusul kejadian penciptaan manusia dalam rahim ibunya, Allah SWT sudah terlebih dahulumejelaskan perihal kejadian tersebut dalam Al Qur’an seperti dalam surat Al Mukminun ayat 12-14, dan diperkuat oleh ayat lainnya diantaranya Surat Al Hasyr ayat 24 yang berbunyi: Teks lihat“google Al-Qur’an onlines”Artinya :
 Dialah Allah yang Menciptakan, yang Mengadakan, yang membentuk Rupa, yang mempunyai asmaaul Husna. bertasbih kepadanya apa yang di langit dan bumi. dan Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS Al Hasyr : 24)Pada surat Al Mukminun ayat 12 -14 Allah SWT menjelaskan bahwa proses penciptaanmanusia dalam rahim ibunya terbagi menjadi 3 fase yaitu:1.Fase air mani2.Fase segumpal darah3.Fase segumpal dagingYang masing-masing fasenya memakan waktu 40 hari, hal ini dijelaskan dalam sebuah haditsyang di riwayatkan oleh bukhari:
Artinya :
 Dari Abdullah bin Mas’ud ra.,ia berkata : Rasululla saw bercerita kepada kami,beliaulah yang benar dan dibenarkan : “Sesungguhnva penciptaan perseoranganmu terkumpul dalam perut ibunva empat puluh hari dan empat puluhmalam atau empat puluh malam, kemudian menjadi segumpal darah, semisal itu (40hari = pen) kemudian menjadi segumpal daging, semisal itu (40 hari = pen),kemudian Allah mengutus Malaikat, kemudian dipermaklumkan dengan empat kata,kemudian malaikat mencari rizkinya, ajalnya (batas hidupnya), amalnya sertacelaka dan bahagianya kemudian Malaikat meniupkan ruh padanya. Sesungguhnya salah seorang di antaramu niscaya beramal dengan amal ahli (penghuni) sorga, sehingga jarak antara sorga dengan dia hanya satu hasta, namun catatanmendahuluinya, maka ia beramal dengan penghuni neraka, maka ia masuk neraka.

 Dan sesungguhnya salah seorang diantaramu, beramal dengan amal ahli neraka, sehingga jarak antara neraka dengan dia hanya satu hasta, namun catatanmendahuinya, maka ia beramal dengan amal penghuni sorga, maka ia masuk sorga
.
(Hadits ditakhrij oleh Bukhari).
Sedangkan dalam surat Al Hasyr Allah menjelaskan bahwa janin sebelum menjadi manusiasempurna juga mengalami tiga fase, yaitu:1.Taswir, yaitu digambarkan dengan bentuk garis-garis, waktunya setelah 42 hari2.Al Khalq, yaitu dibuat bagian-bagian tubuhnya3.Al Baru’, yaitu penyempurnaan terhadap bentuk janinKesimpulan kandungan surat Al Mukminun ayat 12-14 ini antara lain:1.Menjelaskan tentang proses kejadian manusia2.Allah memberi kesempatan hidup di dunia kepada manusia3.Usia manusia ditentukan oleh Allah SWT4.Manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadiannya agar tidak sombong kepadaAllah dan sesama manusiaKandungan surat Al-Mukminun : 12-14

        Allah adalah stu-satunya yang menciptakan manusia
        Penegasan Allah SWT bahwa manusia meupakan makhluk ciptaan-Nya yang asalkejadiannya dari sari pati tanah
        Informasi dari Allah tentang proses kejadian manusia ketika masih berada dalamkandungan
        Allah memberi kesempatan hidup di dunia kepada manusia
        Usia manusia ditentukan oleh Allah SWT
        Manusia diperintahkan untuk memikirkan proses kejadiannya agar tidak sombong kepadaAllah dan sesama manusia.Asbabun NuzulDalam suatu riwayat dikemukaan bahwa pandangan Umar sejalan dengan kehendak dalamempat hal, antara lain mengenai turunnya ayat, Wa la qad khlaqal insane min sulalatim main thin(Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah)(Q.S 23 Al-Mu’minun:12) sampai, … Khalqan Akhar … (… mahluk berbentuk lain…) (Q.S 23Al-Mu’minun: 14). Pada waktu mendengar ayat tersebut, Umar berkata:Fa tabarakallahu ahsanulkhaliqin (Maka Maha Sucilah Allah Pencipta yang Paling Baik).” Maka turunlah akhir ayattersebut (Q.S Al-Mu’minun: 14) yang sejalan dengan ucapan umar itu.2.5 Pengkajian Berdasarkan keilmuan masing-masing

Allah menjadikan manusia dari khulasah (sari) tanah, artinya asal mulanya manusia itudijadikan Allah dari tanah. Menurut pendapat ahli pengetahuan bahwa bumi inisebagian dari matahari, sebab ia pada mula-mulanya sangat panas dan bermyala-nyala, sebagaimana matahari itu. Tetapi lama kelamaan menjadi dinginlah kulitnyayang terbelah keluar, sedang isinya yang didalam masih panas juga.Pertimbangan yang terkenal dan dihormati ilmuwan embriologi ini dinyatakan atas pembelajaranayat al-Quran sesuai dengan disiplinnya. Dan kesimpulannya bahwa Nabi Muhammad SAWadalah utusan Allah.Kata alaqah dalam bahasa Arab memiliki tiga arti. Pertama, berarti pacet atau lintah; kedua, berarti sesuatu yang tertutup; dan ketiga, berarti segumpal darah.
­­­­­­­­­­­­­­­­­
IV.          Tugas Manusia

Q.S Az-Zariyat (51) : 56
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
   Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku
Intisurah Az-Zariyat : 56
Tujuan Allah menciptakan jin dan manusia adalah untuk mengabdi (menyembah) kepada-Nya. Mengabdi maksudnya adalah beribadah. Ibadah adalah taat,patuh, dan tunduk. Dengan demikian, Allah menciptakan manusia dan jin adalah agar mereka senantiasa taat atas segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.

V.             Jenis ibadah
  1. Ibadah mahdah adalah bentuk ibadah yang tata caranya diatur berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah jelas dan bersifat mutlak, sepertisaum, salat, zakat, dan haji.
  2. Ibadah gair mahdah adalah bentuk perbuatan yang dapat bernilai ibadah jika diniatkan untuk ibadah seperti sedekah, menolong orang lain dan sebagainya.

Pengalaman Sikap
  • Senantiasa mengisi hidup dengan perbuatan yang baik
  • Selalu beribadah dengan khusyuk kepada Allah, karena hanya untuk itu pada dasarnya tujuan Allah menciptakan kita
  • Menjauhkan diri dari perbuatan riya
  • Selalu bersosialisasi dengan orang lain dengan baik dan senantiasa saling tolong-menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan takwa

Q.S An-Nahl : 78
وَاللّهُ أَخْرَجَكُم مِّن بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لاَ تَعْلَمُونَ شَيْئاً وَجَعَلَ لَكُمُ الْسَّمْعَ
   وَالأَبْصَارَ وَالأَفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur”.

Intisari Q.S.An-Nahl : 78
o   Penegasan bahwa sesungguhnya manusia terlahir dari rahim tanpa bekal ilmu sedikitpun

o   Allah menganugerahkan berbagai fasilitas kepada manusia seperti pendengaran, pengelihatan, dan hati untuk dimanfaatkan dengan baik sesuai ridho Allah SWT
Anjuran kepada manusia agar senantiasa bersyukur atas segala karunia Allah SWT, karena tanpa karunia-Nya, manusia tak dapat berbuat apa-apa
pengalaman sikap
Selalu rendah hati atau tidak sombong dengan kelebihan yang Allah anugerahkan kepada kita
-          Menyadari bahwa tanpa anugerah Allah, misalnya berupa panca indera, kita tak mampu berbuat apa – apa
-          Senantiasa mensyukuri segala nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita
-          Menggunakan anugerah Allah, misalnya panca indera serta akal dan pikiran untuk hal-hal yang bermanfaat dan hanya untuk menggapai ridha Allah
-          Mengamalkan ilmu yang telah kita dapatkan kepada orang lain, karena sesungguhnya kita terlahir tanpa bekal ilmu, maka mengamalkan ilmu merupakan salah satu wujud rasa syukur kita kepada Allah atas apa yang kita peroleh.
-          Senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT




VI.          Interaktif

-          Pertanyaan 1 (Cindy Pasela):
Sebutkan perilaku yang dilakukan manusia sebagai khalifah!
Jawab: Menjaga perdamaian bumi, memimpin semua umat yaitu sebagai pemimpin masyarakat, mensejahterakan dan memakmurkan bumi. (Artita Putri)
-          Pertanyaan 2 (M. Rizky Amin):
Apakah manusia di bumi adalah pemimpin mutlak atau hanya utusan Allah?
Jawab: Manusia yang menjadi pemimpin di bumi ini adalah sebagai utusan dari Allah. (Jefri Al-Kausar)
-          Pertanyaan 3 (Beta Rezqy):
Bagaimana seorang khalifah memimpin dirinya sendiri sebelum mempin orang lain?
Jawab: Seorang khalifah memimpin dirinya sendiri, dengan belajar mengontrol apa yang ada      di pikiran kita, tingkah laku kita, dan sikap kita bagaimana seharusnya yang baik untuk ditampilkan. (Anita Rahma)
-          Pertanyaan 4 (Annisa Silvany):
Khalifah seperti apa yang disegani oleh malaikat?
Jawab: Khalifah yang disegani oleh malaikat yaitu khalifah yang memiliki sifat seperti Rasulullah, tidak memiliki rasa egoisme tinggi, memikirkan masa depan umatnya, bertanggung jawab, dan khalifah yang mampu memimpin dirinya sendiri. (Berliana Agustin
-          Pertanyaan 5 (guru pembimbing):
Apa yang dimaksud dengan mensejahterakan dan kemakmuran bumi?
Jawab: yang dimaksud dengan mensejahterakan dan kemakmuran bumi adalah yaitu kita sebagai makhluk-Nya tidak membuat kerusakan di bumi ini dan ikut serta dalam berusaha menjaga serta melestarikan alam ini.

Kesimpulan:
Seorang khalifah diciptakan oleh allah swt sebagai pemimpin, imam-imam bagi umatnya, yang memberi petunjuk dan perintah untuk mengerjakan kebajikan sesuai wahyu yang telah diberikan allah swt kepadanya.

0 komentar:

Poskan Komentar